Sebuah perusahaan memiliki beberapa kantor cabang yang sudah terkomputerisasi. Mereka masih menggunakan fax untuk komunikasi data. Lainnya selangkah lebih maju dimana sudah menggunakan email untuk mengirim file.
Ada juga perusahaan yang sudah memiliki aplikasi bersama dalam sebuah jaringan komputer (network), melibatkan sebuah database server.
Atau yang lebih sederhana lagi. Kantor cabang Yogyakarta akan mencetak dokumen ke kantor pusat di Semarang melalui mekanisme printer sebagaimana mencetak dalam sebuah Local Area Network (LAN). LAN terbentuk bila beberapa komputer terhubung langsung ke sebuah HUB. Tentu saja kondisi ini tidak mungkin terjadi pada jarak sejauh dua kota tersebut.
Internet merupakan jawaban murah agar komputer dapat saling terhubung. Hubungan yang dimaksud biasanya tidak dalam bentuk sebuah network dimana IP address yang diperoleh setiap komputer tidak dapat saling mengenal karena bukan IP public. Ada juga Internet Service Provider (ISP) yang sudah memberikan IP public namun IP-nya tidak menentu (bukan IP static). Pada kondisi ini ISP akan menawarkan IP public static (cukup disebut IP public). Umumnya IP public hanya dapat diberikan pada layanan khusus, misalnya pada ADSL (Telkom Speedy), cable modem (Kabelvision), parabola satelit VSAT, atau fiber optic. Kendala utama produk ini adalah tidak banyak daerah yang sudah dicakup (coverage area). Kalaupun sudah ada harganya cukup mahal.
Untuk akses Internet murah kini banyak yang sudah menggunakan perangkat bergerak (mobile) seperti modem CDMA atau GPRS. Kembali ke masalah pokok, Internet melalui jaringan ini tidak memperoleh IP public.
Layanan Virtual Private Network memberikan jawabannya. Setiap komputer dapat saling terhubung secara point to point (P2P) melalui jaringan Internet apapun, termasuk melalui CDMA atau GPRS. Konektivitas ini bagaikan berada dalam sebuah LAN.